1,5 Melodi

4:18:00 PM Unknown 0 Comments




Kita pasti tahu disetiap tahun ajaran dalam metode pembelajaran di Indonesia ada satu ritual khusus yang dinamakan ‘naik kelas’ dimana kita berada jenjang lebih tinggi. Tapi, tidak bagi gadis berambut pendek satu ini dia beranggapan lain.
“bu !! aku naik level !!!”
teriak, berlari, dengan wajah penuh ungkapan senang dari wajah manis lugunya.
“ini hasil belajar aku tahun ini bu. Bagus kan ? “
“iya sih, lumayan. Oh jadi peringkat pertama lagi ? “
Ya. Melodi hanya menjawab pertanyaan ibunya dengan lengkungan bibir yang bersemangat dan segera ingin bergegas mendarat, merebahkan badannya ditempat yang paling sering digunakan melodi selama di dalam rumah.
 Melodi sangat mencintai segala hal yang berhubungan dengan musik. Kebiasaan dia yang kemanapun menggunakan sepasang headset itu kadang menyebalakan. Bisa jadi penyebab kenapa melodi  menghadapi pertanyaan dengan senyuman. Itu sebenarnya dia tidak kedengaran.
 Banyak dari kita menggunakan musik untuk mengurangi kegelisahan yang kita alami. Sama halnya Melodi hal itu merupakan salah satu cara terbaik baginya untuk menghilangkan kesepian yang ia rasakan setelah kehilangan orang tua laki-lakinya yang telah meninggalkan dia sejak  5 tahun yang lalu karena serangan jantung.
Hal yang paling melodi rindukan saat senja terbenam harmoni nada-nada berasal dari jari ayah menari indah diatas papan nada Steinway piano. Tidak salah memang  Buah jatu tak jauh dari pohonya.   
Antusias selalu ada dalam benak jiwa melodi saat sang ayah bermain dengan alat musik yang membuatnya menjadi salah satu pianis solo terbaik di Indonesia, berdiri dibelakang sosok panutannya dengan suara lembut dia mengiringi harmoni yang diciptakan ayahnya, sedikit banyak melodi pun mencoba memainkan jarinya dengan maksud untuk mengikuti jejak ayahnya kelak.
Kenangan-kenangan itulah  yang selalu melodi rindukan. Kalau bisa waktu dia putar, dia selalu ingin kembali.



“KRINGGG..!!!” bunyi jam weker yang selalu ia pasang untuk membangunkan disaat terlelap pun tak berkerja dengan baik. Memasang headset ditelinga itu seperti isyarat  goodbay world, I found my new world
“mel ! bangun mel. Heh kamu nggak sekolah ?  Kamu dari semalem pake headset gitu yampun..”
“hahh.. apa bu ?” dengan desahan suara yang masih sangat mengantuk.
“bangun, nak ini jam tujuh lebih kamu nggak sekolah apa ?bangun bangun !”
“jam tujuh lebih ? ini udah jam Sembilan bu, ini juga hari minggu, mana ada sekolah yang masuk sih bu..”
“oh iya ya.. yauda mandi mandi aja sana gih ”
“haah..”

Melodi menggapai handphone yang ada diujung ranjang. Itu yang selalu dilakukan melodi meskipun dia tidak terlalu peduli dengan kehidupan orang lain, tapi dia punya sahabat yang sangat dekat semenjak kecil sampai sekarang.  Diana.
“hah Diana ? ngajakin ke toko buku ? nggak salah ? “ pikiran yang sedikit tidak fokus dengan tingkat keheranan yang tinggi.setelah membuka pesan singkat yang dikirimkan Diana tadi.

  Mobil, musik. Lagi-lagi melodi bukan tipikal perempuan yang hanya menggemari genre musik tertentu saja. Dia menyesuaikan music yang didengar dengan suasana hati yang ia rasakan saat itu. Imagine Dragons – Amsterdam  lagu yang dibawakan group band asal las vegas yang namanya melambung akhir-akhir ini termasuk dalam  playlist  10 lagu favorit bulan ini.
“hey mel sini“
teriak Diana dari sisi lain rak buku dimeja dekat rak menjulang menggapai lagit-langit atap berada susunan panduan bermain musik.





“he din sorry lama itu siapa ?”
“nggak apa kok. Oh iya ini temen aku kenalan gih. Vin sini ! ”
“hai Melodi.. “
“kevin. Suka dengerin musik ya ?”
“iya kok tau”
“itu headset ditelingamu”
“Oh iya lupa hehe. Itu buku bagus kaya nya ”  panadngan mata melodi terpusat pada tangan kiri kevin yang menggenggam buku berjudul mengindahkan kesepian .
“ nah Kevin ini nih yang suka ngajarin aku jadi orang lebih baik mel dia kuliah di jurusan psikologi loh “
               banyak waktu yang terlewat dalam perbincangan hangat mereka yang sesekali mengundang tawa dan harus segera diakhiri karna sudah terlalu larut baginya dan ia harus kembali pulang.
 Setiba dirumah. Sudah biasa melodi beranjak ke kamar yang aneh ketika melodi tak mendengarkan musik dia malah membaca buku sebelum ia terlelap. Melodi tertarik dengan buku yang dibawa Kevin. Buku tentang teori-teori kejiwaan yang membantu seseoran tegar mengahadapi kesendirian dari diri sendiri. Cobaan yang silir berganti.
Tak terbiasa membaca buku. Melodi pun tak lantas sanggup menyelesaikan buku itu dalam waktu singkat. Butuh berhari- hari. Seiring berjalannya waktu, melodi mengalami perbedaan dari hari ke hari,yang kemana-mana memasang sepasang headset, dia beralih menggenggam erat buku tentang kejiwaan. Dari yang susah bangun sebelum sekolah kini dia sanggup bangun dengan hasrat sendiri. pola hidup yang teratur. Dan sedikit banyak membuat cara berfikirnya lebih terbuka.
Hal ini pun membuat Melodi semakin dekat dengan Kevin. Sebaliknya Kevin mulai ada perasaan dengan melodi . tapi tidak dengan Melodi. Mereka bisa belajar bersama, sharing ilmu dan informasi satu sama lain. Dan kalimat yang selalu ternyiang –nyiang  dalam pikiran melodi adalah ucapan pertanyaan sederhana Kevin kala itu.




“setelah sma mau ngelanjutin kemana kamu ?”
Entah itupun yang menjadi pertanyaan ibunya pada melodi sepulang dari sekolah
“nak kamu mau ngelanjutin kemana setelah lulus ?”
“belum tau bu. Akhir-akhir ini sih aku tertarik sama ilmu psikologi bu, tapi aku juga mau seperti ayah bu”
“ibu sih nggak ngelarang kamu, asal kamu suka sama serius di bidang yang kamu mau sih ga ada masalah kok, bertanggung jawab lah”

Tak henti-hentinya melodi mempertimbangkan apa yang baik antara bakat dengan kemauan yang ia miliki. bukankah ilmu psikologi paling tidak kita bisa membantu orang lain yang sedang dalam tekanan kejiwaan. Bukan kah kita juga harus peduli terhadap sesame. Tapi musik  juga tak kalah menghibur dari harmoni yang diciptakan, menyenangkan bukan karya kita bisa menghibur orang lain.
Selalu ada pilihan dalam hidup dan kita harus bijak dalam menetukan. Selaraskan pikiran dengan hati kita. Tapi baik kita mengikuti pikiran karna hati terkadang sedikit kurang pintar. Dan jangan pernah bimbang.
Semester genap terlewat , genap berlalu. Melodi harus mempersiapkan untuk menghadapi ujian yang menentukan kelulusannya. Banyak ornag yang beranggapan ujian itu semestinya tidak di tiadakan, tiga tahun, ditentukan hanya dengan empat hari. Memprihatinkan !
Beberapa bulan kemudian keramaian di madding sekolah
“Diana Frastia Ayu. LULUS !!, Aku mana yah..” jemari yang menunjuk list siswa siswi dan perasaan tegang setengah mati.
“ me.. Melodi Austhika !! yeee !!! kita lulus din”
“ habis ini kamu mau kemana din ?”
“akusih mau kuliah ambil psikolagi mel. Mungkin diluar kota jadi kita nggak ketemu lagi deh”



Kebingungan yang terlarut suasana kegembiraan akan kelulusannya berhasil dengan baik menutupi kegelisahan melodi untuk memilih mengambil langkah kedepan.
 “bu, kayanya aku mau ngelanjutin ke psikologi aja temenku juga ada yang kesana “
“yakin ? gimana musikmu ?” tanpa jawaban melodi pergi masuk ke kamar

Melodi sebenarnya dia kalau ingin melanjutkan dalam bidang musik, dia bisa mendapat beasiswa belajar di luar negeri. Dia pernah mengikuti ajang pencarian pianis muda u17  dan dia ke2 terbaik. Tapi itu sia-sia. Melodi mengambil universitas yang sama dengan Diana dan jurusan yang sama pula, psikologi.
Kemauan bisa datang sesaat atau akan selalu ada tergantung kita juga. Aktivitas mahasiswa yang umumnya banyak mendapat tugas dari dosen pengajar pun sedikit membuat bosan melodi. Setiap hari serius mengerjakan. Sedikit mengecewakan bagi melodi. Penyeslan mulai datang.
Tapi setidaknya itu terobati. Karena aka nada konser berskala nasional dan mengundang melodi sebagai opener  dalam acara tersebut.dan beranggapan melodi memiiki skill yang mengagumkan. Senang, bangga , takut , gerogi semua itu yang dia rasakan saat tahu itu akan terjadi.
Hari itu tiba gerogi sangat dahsyat ia rasakan saat berada di backstage, karna dia harus bermain solo ! Teriakan terdengar sangat ramai saat pembawa acara membuka konser tersebut. 
Piano romance tema yang dibawakan melodi waktu itu berhasil membuat para penonton disana larut dalam alunan harmoni jemari melodi. Sorak, tepuk tangan, teriakan, membuat melodi meneteskan air mata bahagia.
this is my new world








You Might Also Like

0 komentar: