1,5 Melodi
Kita pasti tahu disetiap tahun ajaran dalam metode
pembelajaran di Indonesia ada satu ritual khusus yang dinamakan ‘naik kelas’
dimana kita berada jenjang lebih tinggi. Tapi, tidak bagi gadis berambut pendek
satu ini dia beranggapan lain.
“bu !! aku naik level !!!”
teriak, berlari, dengan
wajah penuh ungkapan senang dari wajah manis lugunya.
“ini hasil belajar aku tahun ini bu. Bagus kan ? “
“iya sih, lumayan. Oh jadi peringkat pertama lagi ?
“
Ya. Melodi hanya menjawab pertanyaan ibunya dengan
lengkungan bibir yang bersemangat dan segera ingin bergegas mendarat,
merebahkan badannya ditempat yang paling sering digunakan melodi selama di
dalam rumah.
Melodi sangat
mencintai segala hal yang berhubungan dengan musik. Kebiasaan dia yang kemanapun
menggunakan sepasang headset itu kadang menyebalakan. Bisa jadi penyebab kenapa
melodi menghadapi pertanyaan dengan
senyuman. Itu sebenarnya dia tidak kedengaran.
Banyak dari
kita menggunakan musik untuk mengurangi kegelisahan yang kita alami. Sama
halnya Melodi hal itu merupakan salah satu cara terbaik baginya untuk
menghilangkan kesepian yang ia rasakan setelah kehilangan orang tua
laki-lakinya yang telah meninggalkan dia sejak
5 tahun yang lalu karena serangan jantung.
Hal yang paling melodi rindukan saat senja terbenam
harmoni nada-nada berasal dari jari ayah menari indah diatas papan nada Steinway piano. Tidak salah memang Buah
jatu tak jauh dari pohonya.
Antusias selalu ada dalam benak jiwa melodi saat
sang ayah bermain dengan alat musik yang membuatnya menjadi salah satu pianis
solo terbaik di Indonesia, berdiri dibelakang sosok panutannya dengan suara
lembut dia mengiringi harmoni yang diciptakan ayahnya, sedikit banyak melodi
pun mencoba memainkan jarinya dengan maksud untuk mengikuti jejak ayahnya
kelak.
Kenangan-kenangan itulah yang selalu melodi rindukan. Kalau bisa waktu
dia putar, dia selalu ingin kembali.
“KRINGGG..!!!” bunyi jam weker yang selalu ia pasang
untuk membangunkan disaat terlelap pun tak berkerja dengan baik. Memasang
headset ditelinga itu seperti isyarat goodbay world, I found my new world
“mel ! bangun mel. Heh kamu nggak sekolah ? Kamu dari semalem pake headset gitu yampun..”
“hahh.. apa bu ?” dengan desahan suara yang masih
sangat mengantuk.
“bangun, nak ini jam tujuh lebih kamu nggak sekolah
apa ?bangun bangun !”
“jam tujuh lebih ? ini udah jam Sembilan bu, ini
juga hari minggu, mana ada sekolah yang masuk sih bu..”
“oh iya ya.. yauda mandi mandi aja sana gih ”
“haah..”
Melodi menggapai handphone yang ada diujung ranjang.
Itu yang selalu dilakukan melodi meskipun dia tidak terlalu peduli dengan
kehidupan orang lain, tapi dia punya sahabat yang sangat dekat semenjak kecil
sampai sekarang. Diana.
“hah Diana ? ngajakin ke toko buku ? nggak salah ? “
pikiran yang sedikit tidak fokus dengan tingkat keheranan yang tinggi.setelah
membuka pesan singkat yang dikirimkan Diana tadi.
Mobil, musik. Lagi-lagi melodi bukan tipikal
perempuan yang hanya menggemari genre musik tertentu saja. Dia menyesuaikan
music yang didengar dengan suasana hati yang ia rasakan saat itu. Imagine Dragons – Amsterdam lagu yang dibawakan group band asal las
vegas yang namanya melambung akhir-akhir ini termasuk dalam playlist 10 lagu favorit bulan ini.
“hey mel sini“
teriak Diana dari sisi lain rak buku dimeja dekat
rak menjulang menggapai lagit-langit atap berada susunan panduan bermain musik.
“he din sorry lama itu siapa ?”
“nggak apa kok. Oh iya ini temen aku kenalan gih.
Vin sini ! ”
“hai Melodi.. “
“kevin. Suka dengerin musik ya ?”
“iya kok tau”
“itu headset ditelingamu”
“Oh iya lupa hehe. Itu buku bagus kaya nya ” panadngan mata melodi terpusat pada tangan
kiri kevin yang menggenggam buku berjudul mengindahkan
kesepian .
“ nah Kevin ini nih yang suka ngajarin aku jadi
orang lebih baik mel dia kuliah di jurusan psikologi loh “
banyak
waktu yang terlewat dalam perbincangan hangat mereka yang sesekali mengundang
tawa dan harus segera diakhiri karna sudah terlalu larut baginya dan ia harus
kembali pulang.
Setiba dirumah. Sudah biasa melodi beranjak ke
kamar yang aneh ketika melodi tak mendengarkan musik dia malah membaca buku
sebelum ia terlelap. Melodi tertarik dengan buku yang dibawa Kevin. Buku
tentang teori-teori kejiwaan yang membantu seseoran tegar mengahadapi
kesendirian dari diri sendiri. Cobaan yang silir berganti.
Tak terbiasa membaca
buku. Melodi pun tak lantas sanggup menyelesaikan buku itu dalam waktu singkat.
Butuh berhari- hari. Seiring berjalannya waktu, melodi mengalami perbedaan dari
hari ke hari,yang kemana-mana memasang sepasang headset, dia beralih
menggenggam erat buku tentang kejiwaan. Dari yang susah bangun sebelum sekolah
kini dia sanggup bangun dengan hasrat sendiri. pola hidup yang teratur. Dan
sedikit banyak membuat cara berfikirnya lebih terbuka.
Hal ini pun membuat
Melodi semakin dekat dengan Kevin. Sebaliknya Kevin mulai ada perasaan dengan
melodi . tapi tidak dengan Melodi. Mereka bisa belajar bersama, sharing ilmu
dan informasi satu sama lain. Dan kalimat yang selalu ternyiang –nyiang dalam pikiran melodi adalah ucapan pertanyaan
sederhana Kevin kala itu.
“setelah sma mau
ngelanjutin kemana kamu ?”
Entah itupun yang
menjadi pertanyaan ibunya pada melodi sepulang dari sekolah
“nak kamu mau
ngelanjutin kemana setelah lulus ?”
“belum
tau bu. Akhir-akhir ini sih aku tertarik sama ilmu psikologi bu, tapi aku juga
mau seperti ayah bu”
“ibu
sih nggak ngelarang kamu, asal kamu suka sama serius di bidang yang kamu mau
sih ga ada masalah kok, bertanggung jawab lah”
Tak
henti-hentinya melodi mempertimbangkan apa yang baik antara bakat dengan
kemauan yang ia miliki. bukankah ilmu psikologi paling tidak kita bisa membantu
orang lain yang sedang dalam tekanan kejiwaan. Bukan kah kita juga harus peduli
terhadap sesame. Tapi musik juga tak
kalah menghibur dari harmoni yang diciptakan, menyenangkan bukan karya kita
bisa menghibur orang lain.
Selalu
ada pilihan dalam hidup dan kita harus bijak dalam menetukan. Selaraskan
pikiran dengan hati kita. Tapi baik kita mengikuti pikiran karna hati terkadang
sedikit kurang pintar. Dan jangan pernah bimbang.
Semester
genap terlewat , genap berlalu. Melodi harus mempersiapkan untuk menghadapi
ujian yang menentukan kelulusannya. Banyak ornag yang beranggapan ujian itu
semestinya tidak di tiadakan, tiga tahun, ditentukan hanya dengan empat hari.
Memprihatinkan !
Beberapa
bulan kemudian keramaian di madding sekolah
“Diana
Frastia Ayu. LULUS !!, Aku mana yah..” jemari yang menunjuk list siswa siswi
dan perasaan tegang setengah mati.
“
me.. Melodi Austhika !! yeee !!! kita lulus din”
“
habis ini kamu mau kemana din ?”
“akusih
mau kuliah ambil psikolagi mel. Mungkin diluar kota jadi kita nggak ketemu lagi
deh”
Kebingungan
yang terlarut suasana kegembiraan akan kelulusannya berhasil dengan baik
menutupi kegelisahan melodi untuk memilih mengambil langkah kedepan.
“bu, kayanya aku mau ngelanjutin ke psikologi
aja temenku juga ada yang kesana “
“yakin
? gimana musikmu ?” tanpa jawaban melodi pergi masuk ke kamar
Melodi
sebenarnya dia kalau ingin melanjutkan dalam bidang musik, dia bisa mendapat
beasiswa belajar di luar negeri. Dia pernah mengikuti ajang pencarian pianis
muda u17 dan dia ke2 terbaik. Tapi itu
sia-sia. Melodi mengambil universitas yang sama dengan Diana dan jurusan yang
sama pula, psikologi.
Kemauan
bisa datang sesaat atau akan selalu ada tergantung kita juga. Aktivitas
mahasiswa yang umumnya banyak mendapat tugas dari dosen pengajar pun sedikit
membuat bosan melodi. Setiap hari serius mengerjakan. Sedikit mengecewakan bagi
melodi. Penyeslan mulai datang.
Tapi
setidaknya itu terobati. Karena aka nada konser berskala nasional dan
mengundang melodi sebagai opener dalam
acara tersebut.dan beranggapan melodi memiiki skill yang mengagumkan. Senang,
bangga , takut , gerogi semua itu yang dia rasakan saat tahu itu akan terjadi.
Hari
itu tiba gerogi sangat dahsyat ia rasakan saat berada di backstage, karna dia harus
bermain solo ! Teriakan terdengar sangat ramai saat pembawa acara membuka
konser tersebut.
Piano
romance tema yang dibawakan melodi waktu itu berhasil membuat para penonton
disana larut dalam alunan harmoni jemari melodi. Sorak, tepuk tangan, teriakan,
membuat melodi meneteskan air mata bahagia.
“this is my new world”

0 komentar: